Aku tidak ingat. Atau lebih tepatnya, aku tidak pandai mengingat. Entah sejak kapan gadis ini muncul dalam kehidupanku. Aku terbiasa sendiri, dengan pikiran-pikiranku yang tidak akan kubagi dengan orang lain, atau -- belum mau kubagi dengan orang lain. Aneh? I am. Dan sungguh, dia sungguh mengganggu.
"Kamu sudah makan?"
Sungguhkah aku harus menjawab pertanyaan bodoh yang dilayangkannya padaku itu? Peduli setan aku sudah makan atau belum. Jelas sekali itu bukan urusannya. But hell, aku justru menjawab pesan singkat darinya.
"Sudah. Kamu?"
Shit! Bahkan aku melayangkan pertanyaan untuknya. Serius. Ini pasti tidak baik. Menanggapi pertanyaan seseorang dalam suatu perbincangan adalah awal di mana obrolan obrolan sampah yang menggunung dimulai.
You're stupid
Benar saja, sejurus kemudian gadis ini mulai mengoceh, berkelakar menceritakan keluarganya, lalu sepatunya, kukunya, ah.. entahlah. Do I really care? Aku gagal paham, tapi ocehannya terus saja kutanggapi. Entah karena penasaran atau tidak mau dibelitkan pada ocehannya yang lain. Sastra, filsafat, agama, ilmu, cinta. Sungguh, entah apa yang ada di dalam otak gadis ini. Terlalu pintar kah? Sok pintar kah?
"Menurutmu, kenapa ada sela sela di antara jari kita?"
Sekonyong-konyong dia mengajukan pertanyaan yang membuatku mengerutkan dahi.
"Biar bisa pegang sesuatu kali"
Terjawab sudah. Sekenanya. Kemudian dia terkekeh dalam huruf-huruf digital.
"Iya, seperti pegang tanganmu'
Aku tergugu, aku sadar betul wajahku telah menciptakan mimik 'serius?' yang jelas. Aku menatap layar handphone yang sedari tadi kugenggam, lagi-lagi bingung harus mengatakan apa. Haruskah meletuskan confetti kemudian menggunting pita merah? Ikut tertawa dalam guyonan murahan yang mungkin dianggapnya romantis itu? Tapi sungguh, aku tidak bisa berhenti menanggapinya.
"Jadi biar bisa saling menggenggam gitu?"
Sekonyong-konyong aku merasa geli dengan bahasaku. Dengan jawabanku, ah.. bukan. Pertanyaanku. Beberapa detik kemudian dia mengiyakan pertanyaanku dan menambahkan jawaban yang luar biasa berbelit-belit, dan anehnya aku tetap membacanya.
Entahlah, gadis ini, seperti kembang api. Meledak-ledak, berisik, dan terlalu mencolok. Dari tulisan yang dikirimnya untukku, aku tau dia begitu semangat menjawab pertanyaanku. Mengingatkanku pada keponakan perempuanku saat dia menuturkan cerita film kartun yang setiap sore ditontonnya.
Entahlah, gadis ini, seperti kembang api. Meledak-ledak, berisik, dan terlalu mencolok. Dari tulisan yang dikirimnya untukku, aku tau dia begitu semangat menjawab pertanyaanku. Mengingatkanku pada keponakan perempuanku saat dia menuturkan cerita film kartun yang setiap sore ditontonnya.
Tanpa sadar aku tertawa. Tersenyum. Senang?
"Jadi sebenernya tujuannya apa kamu ngajuin pertanyaan itu?" Semburku. Tanpa basa basi.
"Soalnya, aku suka kamu."
Jantungku langsung mogok jalan. Kaget. Bukan. Geli. Bukan. Ah, gawat. Aku menghitung maju, mengira-ngira kapan aku akan jatuh sayang padanya.
"Serius lho, aku suka kamu."
Astaga ..