Tuesday, October 29, 2013

5W1H


Who I love is you. The one who never I expected to be loved. You are my one-clap-hand-love who I never get to love me back since six years ago. For me, you are a twist. Combination of love and hate, struggle and surender, happiness and sadness, take and give, fiction and reality.

What I love from you is.. Emm, let me think, everything. I love everything on you. Your smile, your laugh, your touch, even your name. For me, everything never get wrong with you. You’re just like a magic, you spread a new energy, new experience, new sight of love, and it just can not be replace. Crazy? I am.

When I started to love you? I never ever remember when I started to fall in love with you. But a few years ago, I just know, when I fall in love with you is the time when I realize that I love you again and again. Ask me the perfect day taste like, and I’ll say, when I fall in love with you.

Where I go is the place with your scent, your story, and maybe the place with ‘us’ inside. But for now, I know that you’re the place I want, you’re the place that I go for, you’re the place that I look for, and you’re the place that I put my heart on. When people ask me where the place I love the most? I’ll say, your heart, the place I called home.

Why I love you, then? At first, I was thinking, maybe, I can find it while I am loving you. But unfortunately, I can’t find them. I never found the reason why I love you. For me, it’s getting wrong when I put a word like ‘because’ after I said ‘I love you’. It sounds like you love someone for a reason, and when the reason was gone, you’ll never love them again. So, why I love you? I think my reason is never on list.

How I love you? You guess.

Friday, September 13, 2013

Kembang Api

Aku tidak ingat. Atau lebih tepatnya, aku tidak pandai mengingat. Entah sejak kapan gadis ini muncul dalam kehidupanku. Aku terbiasa sendiri, dengan pikiran-pikiranku yang tidak akan kubagi dengan orang lain, atau -- belum mau kubagi dengan orang lain. Aneh? I am. Dan sungguh, dia sungguh mengganggu.

"Kamu sudah makan?"

Sungguhkah aku harus menjawab pertanyaan bodoh yang dilayangkannya padaku itu? Peduli setan aku sudah makan atau belum. Jelas sekali itu bukan urusannya. But hell, aku justru menjawab pesan singkat darinya. 

"Sudah. Kamu?"

Shit! Bahkan aku melayangkan pertanyaan untuknya. Serius. Ini pasti tidak baik. Menanggapi pertanyaan seseorang dalam suatu perbincangan adalah awal di mana obrolan obrolan sampah yang menggunung dimulai.

You're stupid

Benar saja, sejurus kemudian gadis ini mulai mengoceh, berkelakar menceritakan keluarganya, lalu sepatunya, kukunya, ah.. entahlah. Do I really care? Aku gagal paham, tapi ocehannya terus saja kutanggapi. Entah karena penasaran atau tidak mau dibelitkan pada ocehannya yang lain. Sastra, filsafat, agama, ilmu, cinta. Sungguh, entah apa yang ada di dalam otak gadis ini. Terlalu pintar kah? Sok pintar kah?

"Menurutmu, kenapa ada sela sela di antara jari kita?"

Sekonyong-konyong dia mengajukan pertanyaan yang membuatku mengerutkan dahi.

"Biar bisa pegang sesuatu kali"

Terjawab sudah. Sekenanya. Kemudian dia terkekeh dalam huruf-huruf digital.

"Iya, seperti pegang tanganmu'

Aku tergugu, aku sadar betul wajahku telah menciptakan mimik 'serius?' yang jelas. Aku menatap layar handphone yang sedari tadi kugenggam, lagi-lagi bingung harus mengatakan apa. Haruskah meletuskan confetti kemudian menggunting pita merah? Ikut tertawa dalam guyonan murahan yang mungkin dianggapnya romantis itu? Tapi sungguh, aku tidak bisa berhenti menanggapinya.

"Jadi biar bisa saling menggenggam gitu?"

Sekonyong-konyong aku merasa geli dengan bahasaku. Dengan jawabanku, ah.. bukan. Pertanyaanku. Beberapa detik kemudian dia mengiyakan pertanyaanku dan menambahkan jawaban yang luar biasa berbelit-belit, dan anehnya aku tetap membacanya.

Entahlah, gadis ini, seperti kembang api. Meledak-ledak, berisik, dan terlalu mencolok. Dari tulisan yang dikirimnya untukku, aku tau dia begitu semangat menjawab pertanyaanku. Mengingatkanku pada keponakan perempuanku saat dia menuturkan cerita film kartun yang setiap sore ditontonnya. 

Tanpa sadar aku tertawa. Tersenyum. Senang?

"Jadi sebenernya tujuannya apa kamu ngajuin pertanyaan itu?" Semburku. Tanpa basa basi. 

"Soalnya, aku suka kamu."

Jantungku langsung mogok jalan. Kaget. Bukan. Geli. Bukan. Ah, gawat. Aku menghitung maju, mengira-ngira kapan aku akan jatuh sayang padanya.

"Serius lho, aku suka kamu."

Astaga ..

Tuesday, July 9, 2013

Aku dan Kamu (Prolog)

Ciuman itu tidak terasa, pelukan itu tidak sehangat sewajarnya.. Aku dan kamu, berselimutkan kabut pagi, beratapkan beludru lembayung. Terpaku sampai beku dalam waktu..

Aku dan kamu, sepersekian jarak, menukar jiwa, memetai setiap jengkal raga yang tersentuh. Kamu mempelajari wajahku, sedang aku mempelajari hatimu. Menciptakan simpul-simpul yang tak mampu kulepasakan. Meninggalkan rindu. Membuatku berfilosofis, menentang semua rasionalis. Bahkan komunikasi paten linier sirkuler helikal dimentahkan oleh hati begitu saja karenamu.

Diantara hujan yang memandikan kota
Aku dan kamu, bercinta berbatas cakrawala.. Menutup malam, menarik fajar..



Thursday, May 23, 2013

Michel Foucault

"Menurut Foucault pandangan tentang suatu objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif. Wacana dicirikan oleh batasan bidang dari objek, definisi dari persfektif yang paling dipercaya dan dipandang benar. Persepsi tentang suatu objek dibentuk dengan dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu bahwa ini benar dan yang lain tidak."

Mas, perkataan Foucault yang kau kagumi itu mengganggu pikiranku. Andai kamu tahu, Mas, sosokmu itu sudah mewacanakan sesuatu hal dan membatasi pandanganku. Mengarahkanku pada jalan pikiran tertentu dan mengahayati itu sebagai sesuatu yang benar. Mengagumimu, memujamu, apa itu sesuatu yang benar, Mas?


Penuh kekaguman,
yang lebih muda darimu

Monday, May 20, 2013

Kepada Teman

.. kadang ada perbedaan yang tidak bisa saling mengisi


Kepada teman,
Mungkin segala yang kamu miliki sekarang adalah cinta indah tanpa batas. Ynag membuatmu mampu berdiri, dengan lantang berteriak, atau mati-matian menangis. Mungkin ini adalah cinta yang harusnya kamu perjuangkan untuk menemukan segelas kebahagiaan. Mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk membuktikan bahwa keyakinan yang berbeda pada-Nya tidak akan membuat cinta kandas di tengah jalan. Ya, mungkin, kamu akan bisa menikah, berbahagia, dan menjalani hari-harimu dengan sempurna bersamanya dalam jurang perbedaan. Dengan dia yang mengisi hatimu sekarang. 

Tapi, mungkin selamanya kamu tidak akan pernah merasakan tangan renta yang menuntunmu sedari kecil itu mengantarmu ke depan alltar di gereja, tempat di mana kamu akan mengucap janji suci di hadapan-Nya..


Penuh cinta,
.. dari temanmu yang juga berbeda dan tidak akan pernah menikah denganmu

Friday, May 17, 2013

Kopi Darat

Tak ada yang berubah dari kamu. Setahun yang lalu, bukan, 9 bulan yang lalu. Terakhir kita bertemu saat itu. Hanya kumis yang bertengger di atas bibirmu yang membuat mu berbeda. Eeem, bagaimana aku harus menyebutnya? Lebih tampan? Lebih dewasa? Entahlah. Bagiku kamu selalu terlihat menarik. Konyol memang.

"Lama di mana tadi, keretanya kok datang telat?"

Suaramu segera menyaru dalam telingaku, memberikan gelitik manis yang sungguh, aku rindu ! 

"Mana aku tau, aku kan nggak pandai naik kereta"

Kamu tertawa. Mahal. Ditahan. Selalu seperti itu. Dan aku, menyaru dalam remang malam kota Jogjakarta yang diguyur hujan. Tersenyum sembunyi-sembunyi. Sekonyong konyong harum tubuhmu mendekapku erat-erat. Menyeretku untuk memandang wajahmu yang teduh di bawah sinar lampu.

"Apa kabar?"

Aku mengejar wajahmu dengan ekor mataku. Mengintip dari sela-sela rambut yang menjuntai bebas.

"Never be this good"

Aku menjawab sekenanya, lalu membuang wajahku lagi ke jalanan Jogjakarta. Menyembunyikan semburat merah jambu yang mungkin sedari tadi luntur di wajahku. Rindu ini sungguh mengganggu. Seandainya kamu tahu, duduk di sebelahmu begini saja membuat degup jantungku mau berlari sembunyi. Siaaal, degupnya kencang sekali. 

"Capek?"

Tanganmu sekilas mengusap lututku. Tuhaaaaaaan, rasanya saat itu aku jatuh cinta. Lagi. Lebih Dalam. Aku memandangmu cepat-cepat, menemukanmu sekian senti di hadapanku. Serius, memandang lurus ke depan, menyusuri kelok jalanan malam yang basah.

"Sedikit, euhm, nggak juga sih"
"Iya?"

Aku mengangguk samar.

"Sudah ketemu kamu"

Kamu berdehem. Lalu tertawa seperti cegukan. Entahlah. Ah, andai kamu tahu, saat itu, aku ingin sekali menciummu. Di bawah temaram lampu jalan, di tengah guyuran hujan, di dalam taxi yang sedikit berbau apek. Mungkin, bibirmu rasanya akan manis sekali ..



Jogjakarta, 3 Mei 2013
Di antara sepersekian jarak denganmu