Thursday, May 23, 2013

Michel Foucault

"Menurut Foucault pandangan tentang suatu objek dibentuk dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh struktur diskursif. Wacana dicirikan oleh batasan bidang dari objek, definisi dari persfektif yang paling dipercaya dan dipandang benar. Persepsi tentang suatu objek dibentuk dengan dibatasi oleh pandangan yang mendefinisikan sesuatu bahwa ini benar dan yang lain tidak."

Mas, perkataan Foucault yang kau kagumi itu mengganggu pikiranku. Andai kamu tahu, Mas, sosokmu itu sudah mewacanakan sesuatu hal dan membatasi pandanganku. Mengarahkanku pada jalan pikiran tertentu dan mengahayati itu sebagai sesuatu yang benar. Mengagumimu, memujamu, apa itu sesuatu yang benar, Mas?


Penuh kekaguman,
yang lebih muda darimu

Monday, May 20, 2013

Kepada Teman

.. kadang ada perbedaan yang tidak bisa saling mengisi


Kepada teman,
Mungkin segala yang kamu miliki sekarang adalah cinta indah tanpa batas. Ynag membuatmu mampu berdiri, dengan lantang berteriak, atau mati-matian menangis. Mungkin ini adalah cinta yang harusnya kamu perjuangkan untuk menemukan segelas kebahagiaan. Mungkin ini adalah rencana Tuhan untuk membuktikan bahwa keyakinan yang berbeda pada-Nya tidak akan membuat cinta kandas di tengah jalan. Ya, mungkin, kamu akan bisa menikah, berbahagia, dan menjalani hari-harimu dengan sempurna bersamanya dalam jurang perbedaan. Dengan dia yang mengisi hatimu sekarang. 

Tapi, mungkin selamanya kamu tidak akan pernah merasakan tangan renta yang menuntunmu sedari kecil itu mengantarmu ke depan alltar di gereja, tempat di mana kamu akan mengucap janji suci di hadapan-Nya..


Penuh cinta,
.. dari temanmu yang juga berbeda dan tidak akan pernah menikah denganmu

Friday, May 17, 2013

Kopi Darat

Tak ada yang berubah dari kamu. Setahun yang lalu, bukan, 9 bulan yang lalu. Terakhir kita bertemu saat itu. Hanya kumis yang bertengger di atas bibirmu yang membuat mu berbeda. Eeem, bagaimana aku harus menyebutnya? Lebih tampan? Lebih dewasa? Entahlah. Bagiku kamu selalu terlihat menarik. Konyol memang.

"Lama di mana tadi, keretanya kok datang telat?"

Suaramu segera menyaru dalam telingaku, memberikan gelitik manis yang sungguh, aku rindu ! 

"Mana aku tau, aku kan nggak pandai naik kereta"

Kamu tertawa. Mahal. Ditahan. Selalu seperti itu. Dan aku, menyaru dalam remang malam kota Jogjakarta yang diguyur hujan. Tersenyum sembunyi-sembunyi. Sekonyong konyong harum tubuhmu mendekapku erat-erat. Menyeretku untuk memandang wajahmu yang teduh di bawah sinar lampu.

"Apa kabar?"

Aku mengejar wajahmu dengan ekor mataku. Mengintip dari sela-sela rambut yang menjuntai bebas.

"Never be this good"

Aku menjawab sekenanya, lalu membuang wajahku lagi ke jalanan Jogjakarta. Menyembunyikan semburat merah jambu yang mungkin sedari tadi luntur di wajahku. Rindu ini sungguh mengganggu. Seandainya kamu tahu, duduk di sebelahmu begini saja membuat degup jantungku mau berlari sembunyi. Siaaal, degupnya kencang sekali. 

"Capek?"

Tanganmu sekilas mengusap lututku. Tuhaaaaaaan, rasanya saat itu aku jatuh cinta. Lagi. Lebih Dalam. Aku memandangmu cepat-cepat, menemukanmu sekian senti di hadapanku. Serius, memandang lurus ke depan, menyusuri kelok jalanan malam yang basah.

"Sedikit, euhm, nggak juga sih"
"Iya?"

Aku mengangguk samar.

"Sudah ketemu kamu"

Kamu berdehem. Lalu tertawa seperti cegukan. Entahlah. Ah, andai kamu tahu, saat itu, aku ingin sekali menciummu. Di bawah temaram lampu jalan, di tengah guyuran hujan, di dalam taxi yang sedikit berbau apek. Mungkin, bibirmu rasanya akan manis sekali ..



Jogjakarta, 3 Mei 2013
Di antara sepersekian jarak denganmu