Tak ada yang berubah dari kamu.
Setahun yang lalu, bukan, 9 bulan yang lalu. Terakhir kita bertemu saat
itu. Hanya kumis yang bertengger di atas bibirmu yang membuat mu
berbeda. Eeem, bagaimana aku harus menyebutnya? Lebih tampan? Lebih
dewasa? Entahlah. Bagiku kamu selalu terlihat menarik. Konyol memang.
"Lama di mana tadi, keretanya kok datang telat?"
Suaramu segera menyaru dalam telingaku, memberikan gelitik manis yang sungguh, aku rindu !
"Mana aku tau, aku kan nggak pandai naik kereta"
Kamu
tertawa. Mahal. Ditahan. Selalu seperti itu. Dan aku, menyaru dalam
remang malam kota Jogjakarta yang diguyur hujan. Tersenyum
sembunyi-sembunyi. Sekonyong konyong harum tubuhmu mendekapku erat-erat.
Menyeretku untuk memandang wajahmu yang teduh di bawah sinar lampu.
"Apa kabar?"
Aku mengejar wajahmu dengan ekor mataku. Mengintip dari sela-sela rambut yang menjuntai bebas.
"Never be this good"
Aku
menjawab sekenanya, lalu membuang wajahku lagi ke jalanan Jogjakarta.
Menyembunyikan semburat merah jambu yang mungkin sedari tadi luntur di
wajahku. Rindu ini sungguh mengganggu. Seandainya kamu tahu, duduk di
sebelahmu begini saja membuat degup jantungku mau berlari sembunyi.
Siaaal, degupnya kencang sekali.
"Capek?"
Tanganmu
sekilas mengusap lututku. Tuhaaaaaaan, rasanya saat itu aku jatuh
cinta. Lagi. Lebih Dalam. Aku memandangmu cepat-cepat, menemukanmu
sekian senti di hadapanku. Serius, memandang lurus ke depan, menyusuri
kelok jalanan malam yang basah.
"Sedikit, euhm, nggak juga sih"
"Iya?"
Aku mengangguk samar.
"Sudah ketemu kamu"
Kamu
berdehem. Lalu tertawa seperti cegukan. Entahlah. Ah, andai kamu tahu,
saat itu, aku ingin sekali menciummu. Di bawah temaram lampu jalan, di
tengah guyuran hujan, di dalam taxi yang sedikit berbau apek. Mungkin,
bibirmu rasanya akan manis sekali ..
Jogjakarta, 3 Mei 2013
Di antara sepersekian jarak denganmu